Biar nanti akan kutuliskan semua tentangmu agar melengkapi catatan ilusiku semata.
Lalu aku akan berteriak “persetan kalian semua”.
Kau akan berlari menjauh selagi aku mengambil pisau.
Kau akan terus berlari meninggalkan bayangku dengan pisau di tangan. Kau takut melangkah terlalu jauh karena kau masih melihat ke belakang. Lalu aku mengejarmu tapi tenagaku hanya separuh darimu. Kau tak sadar aku sudah berhenti mengejarmu. Pisauku sudah terasah tinggal kutusukkan pada perutku. Biarkan aku saja yang mati. Aku berdiam dengan genangan darah menyelimutiku.
Dan ketika aku hampir mati tiba-tiba kau kembali.
Pandanganmu menyaratkan rasa muak tapi kau mungkin kasihan padaku karena kau membantuku merawat luka tusukanku. Aku mencoba pulih tapi sial sudah tak ada lagi dewi fortuna di hidupku.
Aku merasa seperti bunga berduri yang setelah dipetik kau buang karena duriku menusuk jarimu.
Lupakan kejadian tempo hari. Kau boleh pergi.
Aku akan berhenti mengejar dan akan kulepaskan anganku dengan sayap patahku yang kian membusuk dari hari ke hari.
Satu saranku, jangan pernah tengok ke belakang.
Jangan Tengok Ke Belakang